Powered By Blogger

Senin, 18 Januari 2016

(Dalam kenangan sejarahnya) Tetap seperti ibuku, setelah ibu kandung dan ibu mertuaku

(Ini hanya menceritakan keadaan yang sebenarnya, yang pernah aku alami, tanpa bermaksud melukai, mengusik dan menggangu siapapun, hanya ucapan terimakasih yang menjadi kenangan saat itu, dan kenangan inipun khusus untuk seorang perempuan yang saat itu aku panggil mamah dan seorang adik yang ku anggap adik sendiri saat itu)

Berlalu.. Dari perasaan yang hilang, berakhir dengan perasaan yang selalu tersimpan untuk mamah dan sang adik tersayang, banyak kenangan indah.. Aku merasa dia ibu kedua aku saat itu, dan sang adik seperti adik kandungku sendiri.. Masih membekas jika diingat ingat.. Bagaimana saat berasama membantu hal hal yang bisa aku lakukan dengan sebaik mungkin untuk mamahnya. Hal apapun, bahkan beres beres rumah bersama, masak bersama cerita bersama, kesana kemari bersama hingga liburan bersama.. Ahh. Mamah, terimakasih buat semua kebaikan mamah yang mungkin tidak akan pernah bisa aku balas dan tidak cukup dengan rasa tulus saat itu yang aku beri untuk mamah.., untuknya.. Sang adik kecilku.. Rindu ini cukup membuat mataku berkaca kaca, banyak canda tawa yang kita lakukan bersama.. Main bareng, ketawa bareng, tidur berdua, mandiin, nyuapin, ngbajuin, bantu belajar, ngerjain PR, renang bareng banyak yang lainnya yang tidak hilang dari ingatanku. Dan rasa sayang itu baik untuk mamah ataupun si bungsu tidak bisa hilang dari perasaan hingga sekarang.
Saat itu ada perasaan ingin terlepas dan merasa bersalah ketika perpisahan dengan anak cikalnya karena disisi lain aku mengorbankan rasa sayang untuk sang mamah dan adik bungsunya, tapi disaat yang bersamaan itu cintaku tersika selalu mengorbankan perasaan tulus yang aku beri dengan kenyataan dia yang tak pernah serius dan benar benar berubah bahwa dia tidak pernah berbuat hal yang merusak, mengusik ketulusan cinta yang kita jaga dan bina baik baik. Selalu aku yang merasa terluka selamanya saat itu karena ternyata dia mendua dari awal kita berhubungan yang baru aku tau setelah 10 bulan kita bersama dan pahit ternyata akulah selingkuhannya dan orang tuanya tidak pernah mengetahuinya, janji untuk berubah dan tidak akan mengulangi hal hal yng merusak hub. Kita tidak pernah bisa dia buktikan sampai kesekian kalinya dia mengulangi hal itu lagi dengan perempuan yang berbeda tiap waktunya, walaupun mungkin tidak sampai menjalin hub. yang serius tp disetiap waktunya selalu banyak kejanggalan dan keraguan yang terus mendalam hingga sulit buat aku menerima bahwa cinta yang aku cari bukan yang seperti ini, bukan yg selalu menimbulkan satu masalah disetiap masalah yang baru, menambahkan satu masalah di dalam masalah yang belum selesai karena cinta yang lain. Maaf dan maaf yang selalu bisa dia lakukan dan kenapa saat itu aku juga selalu berusaha memaafkan padahal jelas dia tidak pernah berubah dan membuktikan keseriusan janji utk lebih baik dan berubah.
Cocok banget rasanya lagu mita jd soundtrack aku saat itu, "Aku cuman punya hati, tp kamu tak pakai hati, kamu berbohong akupun percaya, kamu lukai aku tak perduli, coba kau fikir dimana ada cinta seperti ini... " hmm.. Lebay siihh tp nyata!.
Aku dengan seluruh perasaan sayang aku harus berubah menjadi orang yang tidak punya kepercayaan terhadap pasangan karena perbuatanya yang selalu menyakitkan hingga hati ku tidak menerima cintaku harus seperti ini.. Ketulusan cintaku dibalas dengan begini..
Sakit... Pediihh.. Curiga.. Yaa, perasaan cintaku saat itu di kelabuhi dengan 3 perasaan itu..
Pertunangan yang di tawarkan sang mamah dengan anak cikalnya tidak membuat aku langsng mengatakan yess I want! But no... Jangan terburu buru.. Dengan banyak keraguan dr sikap anak cikalnya yang begitu aku tidak mau mengorbankan perasaan aku yg lebih dalam lagi hingga aku menyesal dan rapuh seumur hidup.
Dengan kerapuhan ku.. Aku merasa aku lebih dekat dengan Allah, banyak belajar sabar, berbesar hati, ikhlas dan bersyukur karena apapun yang aku terima, suatu saat akan di ganti dengan yang lebih baik.. Aku percaya begitu luar biasanya recana Allah.
Dari mulai aku selesai kuliah, aku tidak pernah berharap dan ingin bekerja di kota kelahiranku.. Di samping aku merasa kurangnya fasilitas, aku juga merasa tidak ada teman karena dari kecil saya terbiasa pindah pindah untuk tinggal, walaupun tempat tinggal utama tetap di kota kelahiranku. Tapi karena kepasrahan dari cinta yang aku terima saat itu, aku merasa terpanggil untuk mencari pekerjaan di kota asalku dengan Bismillah dan kepasrahan aku melangkah..Dengan keadilan Nya.. Allah memperlihatkan bagaimana dia merasa rapuh karena aku sudah tidak bersamanya lagi, dia meminta untuk kembali, memaksa dan mendorong badan ku ke tembok, sakit! Tp tidak seberapa di banding rasa sakit dari kebohongan kebohongan kamu saat itu.. Nah lagu rosa yang tak sanggup lagi juga cocok buat soundtrack aku saat itu.. , Bismillah aja.. Dengan keteguhan dan keyakinan aku menegaskan aku akan melangkah dengan keadaan yang lebih baik..
Hingga akhirnya aku diterima bekerja di salah satu perusahaan di kota kelahiranku. Dan disitu pula awal pertemuanku dengan dia yang akan menjadi pendamping hidupku..
Jelaslah terjawab, kenapa tidak pernah diberikan petunjuk dan keyakinan dari solat istikhorohku untuk tawaran pertunangan yang berkali kali ditawarkan..
Allah maha adil dalam segala hal.. Dan tidak diam dalam kesulitan hambanya yang merasa sulit, sedih, dan rapuh.. Aku bersyukur karena Allah mendengar doa aku saat aku hilang arah karena luka cinta yang terlalu dalam hingga akhirnya aku dipertemukan dengannya InsyaAllah menjadi calon imamku dan keluarga kita dalam rahmat Allah dan kebahagiaan Amiin.. 😇 terimakasih calon suamiku.. You are the one!!
Aku share.. Ini kisah aseli.. Semoga jd motivasi untuk siapapun yang merasa rapuh dan ragu.. Percayalah kebahagiaan akan segera kita dapatkan jika kita berani mengabil keputusan yang lebih baik! Orang cantik dan ganteng harus tegas dan berani karena.. Demi kebaikan.. Kl pakai hati selalu ujung2nya membuat sakit gada salahnya logika di aplikasikan.. 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar